/ Miftahul Jannah Sumber: Agar Posting Blog tidak bisa di Copy Paste! | jagoBlog.com

Jumat, 27 Februari 2009

Analisis Kebutuhan Mata Pelajaran Sejarah

ANALISIS KEBUTUHAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH*
Miftahul Jannah**


Pendahuluan
Menganalisis kebutuhan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam mendesain pembelajaran. Hal ini sesuai dengan tujuan desain yang dikembangkan untuk siswa. Mendesain pembelajaran yang diawali dengan studi kebutuhan memungkinkan hasilnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh individu yang memerlukannya.
Dalam konteks pengembangan kurikulum,John McNeil (1985) mendefinisikan need assesment sebagai: “the process by which one defines educational needs and decides what their priorities are”. Jadi menurut McNeil, assessment itu adalah proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan. Selanjutnya, ia mendefinisikan tentang kebutuhan sebagai “...a condition in which there is a discrepancy between an acceptable state of learner behavior or attitude and an observed learner state”.
Sejalan dengan pendapat McNeil, Seels dan Glasgow (1990) menjelaskan tentang pengertian need assessment: “it means a plan for gathering information about discrepancies an for using that information to make decisions about priorities”. Kebutuhan itu pada dasarnya adalah kesenjangan (discrepancies) antara apa yang telah tersedia dengan apa yang diharapkan dan need assessment adalah proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan untuk dipecahkan (Sanjaya,2008:92).

*) Disampaikan pada diskusi mata kuliah Pengembangan Sistem Instruksional Pada
Tanggal 24 Februari 2009
**)Mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan Program Pascasarjna Universitas
Sriwijaya dengan NIM 20082013003

Ada beberapa hal yang melekat pada pengertian need assessment, seperti yang dikemukakan baik oleh McNeil maupun Glasgow. Pertama, need assessment merupakan suatu proses artinya ada rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan need assessment. Need assessment bukanlah suatu hasil, akan tetapi suatu aktivitas tertentu dalam upaya mengambil keputusan tertentu. Kedua, kebutuhan itu sendiri pada hakikatnya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan (Sanjaya,2008:92).
Dengan demikian, maka need assessment itu adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang kesenjangan yang seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki.
Kegiatan melaksanakan need assessment merupakan suatu kegiatan yang pertama kali harus dilakukan dalam setiap model desain instruksional. Hal ini menunjukkan begitu pentingnya melacak informasi tentang harapan dan kenyataan, yakni kemampuan yang diharus dimiliki dengan kemampuan yang telah dimiliki. Dimana need assessment adalah penelusuran tentang proses belajar, kebutuhan peserta didik serta harapan yang harus dicapai dalam proses belajar lanjutan (Prawiradilaga,2007:27).
Need assessment yang akan dibahas pada makalah ini adalah analisis yang terkait pada mata pelajaran Sejarah. Need assessment, yang akan dilakukan pada mata pelejaran sejarah adalah mengenai cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional dan spiritual peserta didik.
Langkah-langkah analisi kebutuhan (need assessment), sebagai suatu proses, need assessment terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah (Sanjaya,2008:92).
Menurut Sanjaya (2008:93), adapun langkah-langkah analisis kebutuhan adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan informasi
2. Identifikasi kesenjangan
3. Analisis performance
4. Identifikasi hambatan dan sumber
5. Identifikasi karakteristik siswa
6. Identifikasi prioritas dan tujuan
7. Merumuskan masalah

Analisis kebutuhan yang akan dilakukan adalah mata pelajaran Sejarah, dengan standar kompetensi: Memahami prinsip dasar ilmu sejarah.

Analisis Kebutuhan Pada Mata Pelajaran Sejarah

1. Tahap Pengumpulan Informasi
Dalam merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siapa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa (Sanjaya,2008:93).
Pengumpulan informasi pada analisis kebutuhan ini akan terkait pada standar kompetensi Menganalisis Peradaban Indonesia dan Dunia. Hal –hal yang perlu dibahas pada standar kompetensi ini adalah mengapa standar kompetensi ini perlu diberikan kepada peserta didik? Kendala-kendala apa yang dihadapi? Dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa dalam proses pembelajaran?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas akan dijawab dengan cara menganalisis secara seksama mengapa standar kompetensi ini perlu diberikan kepada peserta didik? Terkait dengan salah satu tujuan dari proses pembelajaran sejarah maka standar kompetensi ini, wajib diberikan kepada siswa dengan harapan siswa akan dapat memahami prinsip dasar ilmu sejarah. Karena pada konsepnya sejarah terkait dengan masa lampau. Masa lampau ini berisi peristiwa dan setiap peristiwa sejarah hanya terjadi sekali. Jadi pembelajaran sejarah adalah pembelajaran peristiwa sejarah dan perkembangan masyarakat yang telah terjadi. Sementara materi pokok pembelajaran sejarah adalah produk masa kini berdasarkan sumber-sumber sejarah yang ada.
Karena itu dalam pembelajaran sejarah harus lebih cermat, kritis, berdasarkan sumber-sumber dan tidak memihak menurut kehendak sendiri dan kehendak pihak-pihak tertentu.

Siswa Sebagai Objek Belajar
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi pelajaran. Mereka dianggap sebagai organisme yang pasif, yang belum memahami apa yang harus dipahami, sehingga melalui proses pengajaran mereka dituntut memahami segala sesuatu yang diberikan guru. Peran siswa adalah sebagai penerima informasi yang diberikan guru. Jenis informasi dan pengetahuan yang harus dipelajari kadang-kadang tidak berpijak dari kebutuhan siswa, baik dari segi pengembangan bakat maupun dari minat siswa, akan tetapi berangkat dari pandangan apa yang menurut guru dianggap baik dan bermanfaat (Sanjaya,2008:96).
Dengan keadaan diatas, jika siswa sebagai objek belajar, kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan minat dan bakatnya, bahkan untuk belajar dengan gayanya, sangat terbatas. Sebab, dalam proses pembelajaran segalanya diatur dan ditentukan oleh guru.
Namun tidak demikian perlakuan yang didapatkan oleh siswa di SMA PGRI Pulau Harapan Banyuasin III, khususnya mata pelajaran Sejarah, disini siswa bisa memberikan pendapat tentang proses pembelajaran yang diinginkan. Apakah dengan metode ceramah atau diskusi kelompok (cooperative learning), dengan demikian diharapkan siswa akan dapat dalam merangkai satu fakta dengan fakta yang lain, dalam menjelaskan peristiwa sejarah yang satu dengan peristiwa sejarah yang lain perlu mengingat prinsip sebab-akibat, dimana peristiwa yang satu diakibatkan oleh peristiwa sejarah lain dan peristiwa sejarah yang satu akan menjadi sebab peristiwa sejarah berikutnya.



Mengapa Need Assessment dibutuhkan?
Jika berbicara mengapa need assessment dibutuhkan? ini terkait pada hasil proses pembelajaran. Pada mata pelajaran Sejarah need assessment yang dibutuhkan adalah penilaian kognitif dan afektif, karena materi pelajaran sejarah mencakup fakta, konsep, prinsip atau hukum. Pemilihan materi pembelajaran harus sesuai dengan tuntutan kompetensi. Need assessment dibutuhkan karena dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar, pada mata pelajaran sejarah apabila setiap siswa telah mengerjakan tugas yang diberikan akan diberi penialain sesuai dengan tingkat kognitif siswa masing-masing dengan demikian akan memotivasi siswa untuk menjadi lebih baik, hal ini dapat dilihat dari ekspresi siswa ketika mengatahui hasi dari tes maupun tugas yang diberikan.

Meliputi apa saja need assessment
Pada mata pelajaran Sejarah need assessment yang dibutuhkan adalah penilaian yang bersifat kognitif dan afektif. Seperti yang dikatakan Bloom (1977), tujuan yang mempunyai titik berat kemampuan berpikir disebut tujuan dalam kawasan kognitif. Kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi sesuatu merupakan jenjang kemampuan dalam kawasan ini. Jika merujuk pada pendapat Bloom diatas maka siswa SMA PGRI Pulau Harapan Banyuasin III, belum sepenuhnya memiliki tingkat kognitif yang tinggi hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian Identifikasi Hambatan dan Sumber.
Afektif tujuannya, berintikan pada kemampuan bersikap. Sejauh mana sikap siswa terhadap segala sesuatu baik sikap terhadap pengaplikasian hasil belajar maupun sikap terhadap lingkungan sosial, hal ini akan menambah penilaian bagi siswa, jadi tidak hanya kognitif yang diutamakan afektif juga memegang peranan penting terhadap proses pembelajaran. Dengan adanya need assessment ini diharapkan nantinya dapat menyusun Tujuan Instruksional Umum untuk mata pelajaran sejarah.


2.Tahap Identifikasi Kesenjangan
Dalam mengidentifikasikan kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Dua elemen pertama, yaitu input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses (Sanjaya,2008:95).
Dengan demikian yang termasuk komponen input, meliputi kondisi yang tersedia diantaranya adalah guru, siswa, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Jika dikaitkan dengan kategori diatas maka guru untuk mata pelajaran sejarah pada SMA PGRI Pulau Harapan Banyuasin III terdapat dua orang guru, dengan jumlah siswa sekitar 147 orang, problem yang dihadapi adalah kekurangan sarana dan prasarana penunjang dalam proses pembelajaran, materi kurikulum yang dipakai adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), khususnya untuk mata pelajaran sejarah siswa diharapkan mampu untuk menganalisis setiap peristiwa sejarah.
Komponen proses, meliputi pelaksanaan pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan kurikulum, dalam pembelajaran sejarah indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
Komponen output, meliputi ijazah kelulusan, ketrampilan prasyarat, lisensi. Komponen outcome, meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan. Outcome, merupakan hasil akhir yang diperoleh dan dapat diterima dalam masyarakat. Melalui analisis hasil, desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan khususnya tujuan dari proses pembelajaran tersebut.

3. Analisis Performance
Menganalisis performance dilakukan setelah desainer memahami berbagai informasi dan mengidentifikasi kesenjangan yang ada (Sanjaya,2008:96). Analisis performance meliputi beberapa hal diantaranya adalah:
Mengidentifikasi guru. Bagaimana kinerja guru selama ini dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam penglolaan pembelajaran? Sejauh pengamatan saya jika berkaitan dengan kinerja dan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran pada SMA PGRI Pulau Harapan Banyuasin III, sudah cukup baik, hal ini dapat dilihat dari kedatangan guru yang selalu tepat waktu dan selalu melakukan proses pembelajaran yang baik dengan harapan apa yang dijelaskan akan dipahami oleh siswa.
Mengidentifikasi sarana dan kelengkapan penunjang. Bagaimana kelengkapan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keberhasilan pembelajaran? Harus diakui secara umum, jika berkaitan dengan saran dan prasarana penunjang dalam proses pembelajaran pada SMA kami masih banyak kekurangan, pada SMA ini hanya menggunakan buku paket saja. Untuk sumber belajar yang lain belum tersedia, khususnya untuk mata pelajaran sejarah.
kebijakan sekolah. Bagaimana kebijakan-kebijakan sekolah dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran? Sejauh ini kebijakan-kebijakan yang ada sudah dirasakan cukup baik.
Mengidentifikasi iklim sosial dan iklim psikologis. Bagaimana suasana disekolah? Apakah sekolah memiliki iklim yang baik sehingga dapat mendukung keberhasilan dalam setiap program? Iklim sosial yang ada pada SMA PGRI Pulau Harapan sejauh ini sudah terjalin dengan baik antara semua unsur sekolah; sedangkan iklim psikologis yang berkaitan dengan suasana kebersamaan antara semua unsur sekolah juga sudah terjalin dengan baik.

Dengan demikian, secara keselurahan analisis performance pada SMA PGRI Pulau Harapan Bayuasin III, sudah cukup baik hanya saja masih kekurangan dalam kelengkapan sarana dan prasarana sebagai faktor pendukung keberhasilan dalam proses pembelajaran.


4. Mengidentifikasi Kendala Beserta Sumber-sumbernya
Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala bisa muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu program. Kendala pada mata pelajaran sejarah pada SMA PGRI Pulau Harapan Banyuasin III diantaranya adalah kekurangan media pembelajaran. Karena strategi pembelajaran sejarah yang biasa digunakan adalah strategi ekspositori peran guru cenderung lebih dominan. Pemilihan strategi ekspositori berdasarkan karakteristik materi yang dominan pada konsep dan prinsip, serta lebih abstrak. Sementara sumber belajar langsung berupa alat atau model yang tersedia terbatas.


5. Identifikasi Karakteristik Siswa
Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang berkaitan dengan siswa diantaranya adalah; tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat sosial ekonomi, latar belakang, gaya belajar dan sikap (Sanjaya,2008:99).
Berdasarkan identifikasi yang berkaitan dengan siswa diatas dapat diambil secara garis besar bahwa gaya belajar siswa ada yang gaya belajar visual, auditori, kinestetik dan ada juga gabungan dari ketiga gaya belajar tersebut hanya saja biasanya satu gaya yang mendominasi. Sedangkan pada tingkat sosial ekonomi, jika dilihat dari penghasilan orang tua siswa banyak berasal dari keluarga yang mapan dengan diimbangi hubungan sosial yang baik.


6. Identifikasi Prioritas dan Tujuan
Dari kegiatan mengidentifikasi kebutuhan instruksional diperoleh jenis pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tidak pernah dipelajari atau belum dilakukan dengan baik oleh siswa. Jenis pengetahuan, keterampilan dan sikap tersebut masih bersifat umum atau garis besar. Ia merupakan hasil belajar yang diharapkan dikuasai siswa setelah menyelesaikan sekolah. Karena sifatnya yang masih umum, maka disebut tujuan instruksional umum (Suparman,2001:75).
Tujuan instruksional dalam kawasan manapun harus dirumuskan dengan kata kerja operasional, serta yang menunjukkan kegiatan yang dapat dilihat. Dalam proses pembelajaran sejarah dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar (KD)/TIU. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.


7. Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah yang dimaksud disini adalah hasil analisis kebutuhan untuk merumuskan tujuan instruksional umum (TIU), yang sekarang disebut sebagai Kompetensi Dasar (KD), yang pada prinsipnya fungsi antara TIU dan KD sama saja hanya dalam penyebutan istilah yang berbeda. Dalam makalah ini akan lebih cenderung menggunakan istilah kompetensi dasar (KD).
Kompetensi dasar mata pelajaran sejarah dirumuskan berdasarkan struktur keilmuan sejarah dan tuntutan kompetensi lulusannya. Jika melihat pada standar kompetensi mata pelajaran sejarah adalah kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan siswa untuk mata pelajaran sejarah; kompetensi mata pelajaran sejarah yang harus dimiliki siswa; kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan SMA dalam mata pelajaran sejarah. Sesuai dengan pengertian tersebut maka standar kompetensi mata pelajaran sejarah adalah kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan siswa untuk mata pelajaran sejarah (Depdiknas,2006).
Berdasarkan penjabaran diatas maka akan dicoba untuk menyusun kompetensi dasar (KD). Dengan standar kompetensi yang telah ditentukan yaitu “Memahami Prinsip Dasar Ilmu Sejarah”. Berdasarkan langkah-langkah Analisis Kebutuhan yang telah dilakukan diatas, maka dalam merumuskan kompetensi dasar perlu diperhatikan karakteristik Standar kompetensi (SK), melalui telaah kata kerja operasional yang digunakan. Untuk kompetensi yang menuntut penguasaan konsep dan prinsip menggunakan kata kerja operasional yang sesuai dan berbeda untuk kompetensi yang menuntut kemampuan operasional atau prosedural.
Sehingga timbul pertanyaan kenapa KD diperlukan? Karena KD merupakan tolak ukur akan keberhasilan standar kompetensi (SK) mata pelajaran, melalui KD dapat diharapakan bahwa keberhasilan itu akan tercapai, dimana nantinya KD ini akan terbagi dalam sub-sub judul kecil yang disebut indikator. Indikator harus memadai sehingga mencapai kompetensi yang diperlukan. Keseluruhan indikator dalam satu KD minimal harus mencapai tingkat kompetensi dalam KD, meskipun dapat dikembangkan lebih tinggi jika kondisinya memungkinkan.
Berikut ini akan dijabarkan KD yang merujuk pada standar kompetensi “Memahami Prinsip Dasar Ilmu Sejarah”. Penjabaran standar kompetensi (SK) menjadi Kompetensi Dasar (KD) berdasarkan analisis kebutuhan yang telah dilakukan sebelumnya.

Penjabaran Standar Kompetensi (SK) Menjadi Kompetensi Dasar (KD).

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami prinsip dasar
ilmu sejarah 1.1.Menjelaskan pengertian ruang lingkup
ilmu sejarah.
1.2.Mendeskripsikan tradisi sejarah dalam
masyarakat Indonesia masa pra-aksara
dan masa aksara.
1.3.Menggunakan prinsip-prinsip dasar
penelitian sejarah

Berikut ini akan dijelaskan satu perstu mengenai KD diatas kenapa harus diberikan kepada siswa? KD harus diberikan kepada siswa dengan tujuan untuk mempermudah penyampaian materi pelajaran kepada siswa karena sifatnya sebagai kompetensi dasar yang harus dicapai oleh setiap siswa yang nantinya dalam penjabaran akan menjadi indikator-indikator yang disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan sekolah.
Untuk KD yang pertama 1.1. Menjelaskan pengertian ruang lingkup ilmu sejarah kenapa KD ini harus diberikan kepada siswa?
Pada KD ini nantinya siswa akan dapat menjelaskan segala sesuatu yang termasuk dalam ruang lingkup ilmu sejarah, pada KD ini siswa akan dapat mengetahui apa pengertian sejarah baik secara umum maupun khusus, manfaat sejarah, pengertian sumber, bukti dan fakta sejarah serta periodesasi dan kronologi sejarah Indonesia. Yang nantinya ketercapaian KD ini akan dilihat dari keberhasilan yang dicapai siswa melalui indikator-indikator yang dijabarkan.
Untuk KD yang kedua 1.2. Mendeskripsikan tradisi sejarah dalam masyarakat Indonesia masa pra-aksara dan masa aksara kenapa KD ini harus diberikan kepada siswa?
Karena pada prinsipnya sejarah bersifat kronologis. Oleh karena itu, dalam mengorganisasikan proses pembelajaran sejarah haruslah didasarkan pada urutan kronologis peristiwa sejarah. Dengan adanya KD ini siswa akan dapat menjelaskan tradisi sejarah pada masyarakat pra-aksara dan masyarakat pada masa aksara, yang nantinya akan dijabarkan dalam indikator-indikator yang mudah dipahami siswa.
Untuk KD yang ketiga 1.3. Menggunakan prinsip-prinsip dasar penelitian sejarah, kenapa KD ini harus diberikan kepada siswa?
Dengan adanya KD ini siswa akan dapat menjelaskan mengenai prinsip-prinsp dasar penelitian sejarah, baik prinsip sebab-akibat dalam kajian sejarah maupun prinsip kronologis dalam kajian sejarah.
Berdasarkan analisis diatas maka dengan adanya KD dapat mempermudah seorang guru dalam mengembangkan bahan ajar, yang disesuaikan dengan indikator-indikator yang akan dijabarkan, karena indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Kesimpulan
Analisis kebutuhan adalah penelusuran tentang proses belajar, kebutuhan peserta didik serta harapan yang harus dicapai dalam proses belajar lanjutan. Analisis kebutuhan bermanfaat antara lain untuk :
Rumusan tujuan pembelajaran serta analisis tugas yang harus dilaksanakan;
Pengalaman belajar yang harus dimiliki
Dukungan dan hambatan terhadap proses belajar

Analisis kebutuhan disusun berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut:
Pengumpulan informasi
Identifikasi kesenjangan
Analisis performance
Identifikasi hambatan dan sumber
Identifikasi karakteristik siswa
Identifikasi prioritas dan tujuan
Merumuskan masalah

Berdasarkan analisis kebutuhan yang telah dilakukan pada mata pelajaran sejarah, terdapat kesenjangan dalam hal ketersediaan media pembelajaran. Karena sifat pembelajaran sejarah cenderung abstrak, sehingga sangat diperlukan sarana dan prasarana penunjang dalam proses pembelajaran agar KD yang diharapkan akan dapat tercapai oleh siswa-siswa.


Daftar Pustaka

Prawiradilaga, Salma Dewi. 2007. Prinsip Disain Pembelajaran. UNJ: Jakarta

Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Kencana: Jakarta

Suparman, Atwi. 2001. Desain Instruksional. Depdiknas: Jakarta.

Rabu, 14 Januari 2009

PERADABAN INDONESIA KUNO

PERADABAN INDONESIA KUNA
DI DAERAH ALIRAN SUNGAI MUSI

Nurhadi Rangkuti
(Balai Arkeologi Palembang)


1. Pendahuluan

Tumbuhnya peradaban di wilayah Sumatera Selatan, erat kaitannya dengan peranan sebuah sungai besar, yaitu Sungai Musi yang bermuara di Selat Bangka. Selat Bangka dan juga Selat Malaka telah dikenal sebagai jalur perdagangan internasional sejak awal Masehi (Wolters 1974 dalam Budisantosa 2002).

Sungai Musi menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir timur Sumatera. Daerah aliran Sungai (DAS) Musi meliputi Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Lematang, Batanghari Leko, Sungai Rawas, dengan anak sungai-anak sungainya. Pada DAS Musi banyak ditemukan situs-situs arkeologi yang memiliki karakteristik budaya Hindu-Buddha, seperti sisa-sisa bangunan candi, arca-arca dewa Hindu, arca-arca Buddha dan temuan prasasti-prasasti berhuruf Pallawa dan bahasa Sansekerta serta Melayu Kuna.

Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa di DAS Musi telah berkembang peradaban masa Indonesia Kuna. Masa Indonesia Kuna dikenal pula dengan istilah masa “Klasik” atau masa “Hindu-Buddha” yang meliputi masa sejak berdirinya Kerajaan Hindu pertama di Kutai Kalimantan Timur sampai berakhirnya Kerajaan Majapahit di nusantara yang meliputi rentang waktu 10 abad (abad ke-5 hingga abad ke-15 Masehi).

Peradaban Indonesia Kuna di DAS Musi ditandai dengan adanya arsitektur publik yang monumental (candi, kanal, kolam), artefak-artefak komoditi perdagangan internasional, peraturan dan hukum secara tertulis, spesialisasi kerja dan hirarki masyarakat yang diketahui dari isi prasasti. Dengan mengamati luas wilayah persebaran dan banyaknya situs arkeologis, menggambarkan adanya pusat peradaban yang berciri urban di tepi Sungai Musi, dan tempat-tempat upacara keagamaan serta permukiman lainnya di luar pusat, yaitu pada cabang-cabang sungai Musi.

Pusat peradaban di tepi Sungai Musi dikenal juga dengan nama Kerajaan Sriwijaya, sebuah nama yang diabadikan dalam prasasti-prasasti dari abad ke-7 Masehi. Palembang yang terletak di tepi Sungai Musi pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya, sebuah kerajaan yang berlangsung sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi.

Prasasti Kedukan Bukit memberitakan bahwa pada 16 Juni tahun 682 Masehi, Dapunta Hyang (raja Sriwijaya) mendirikan wanua, setelah melakukan perjalanan dari Minanga menuju Mukha Upang membawa tentara sebanyak 20.000 orang dengan perbekalan 200 peti naik perahu, sedangkan yang berjalan kaki 1312 tentara. Boechari (1993) berpendapat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya mula-mula ada di Minanga, kemudian pada tanggal 16 Juni 682 Dapunta Hyang mendirikan sebuah ibukota baru di Palembang untuk dijadikan pusat kerajaan yang baru. Peristiwa pendirian wanua oleh Dapunta Hyang merupakan awal pembangunan kota, yang sekurang-kurangnya terdiri atas istana raja, rumah para pejabat kerajaan dan peribadatan (Boechari 1993).

2. Situs-Situs Pra-Sriwijaya

Di wilayah pantai timur Sumatera Selatan, terdapat situs-situs arkeologi yang diperkirakan berasal dari masa pra-Sriwijaya dan berlanjut hingga masa Sriwijaya. Situs-situs itu antara lain Air Sugihan di Kabupaten Banyuasin dan Situs Karangagung Tengah di Kabupaten Musi Banyuasin.

Situs Air Sugihan

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional telah menemukan sebuah guci keramik Cina dari Dinasti Sui (abad ke-6 – 7 Masehi) di Situs Air Sugihan. Bersama dengan artefak tersebut ditemukan pula manik kaca Indo-Pasifik dan manik kaca emas serta manik batu karnelian (Budisantosa ). Manik-manik kaca tersebut berasal dari Mesir atau Asia Barat abad ke 4 – 11 Masehi dan diduga barang impor.

Situs Karangagung Tengah

Situs ini terletak di Kecamatan Sungai Lalan (sebelumnya Kec. Buyung Lincir), Kabupaten Musi Banyuasin. Lokasi situs terletak di DAS Banyuasin, yang bermuara di Selat Bangka, seperti halnya Sungai Musi. Sungai Lalan yang merupakan cabang Sungai Banyuasin merupakan akses utama menuju lokasi permukiman kuna itu.

Serangkaian penelitian di Situs Karangagung Tengah sejak tahun 2000 sampai 2005 oleh Balai Arkeologi Palembang, memberikan gambaran bahwa situs-situs ini bekas permukiman kuna di daerah aliran Sungai Lalan, tepatnya di daerah rawa pasang surut (tidal swamp). Jenis-jenis tinggalan arkeologis yang ditemukan adalah tiang rumah kayu, kemudi perahu, wadah tembikar, pelandas (anvil), bata, manik-manik, anting, gelang kaca, batu asah, tulang, gigi dan tempurung kelapa. Penduduk sekitar banyak menemukan tinggalan-tinggalan lainnya seperti gelang batu, cincin emas, anting emas, dan liontin perunggu (Budisantosa 2002).

Analisis laboratorium terhadap dua potong sampel tiang rumah kayu dari Situs Karangagung Tengah berumur 1624 – 1629 BP, kira-kira sama dengan tahun 373 – 376 Masehi atau pada masa pra-Sriwijaya (Soeroso MP 2002). Berdasarkan jenis-jenis artefak yang ditinggalkan, komunitas Karangagung pada masa lalu bersandar pada perdagangan internasional. Sisa-sisa tiang rumah kayu banyak ditemukan, memberi gambaran adanya bangunan-bangunan rumah kayu yang dibangun sepanjang sungai lama yang menghubungkan Sungai Lalan dan Sungai Sembilang.

3. Situs-Situs Sriwijaya

3.1. Pusat Sriwijaya

Penelitian arkeologi yang intensif di Palembang sejak tahun 1970-an sampai tahun 1990-an oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Palembang, telah memperkuat bukti bahwa Palembang pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya. Situs-situs masa Sriwijaya meliputi Situs Talang tuo, Sungai Tatang,Telaga Batu, Boom Baru, Bukit Siguntang, Karanganyar, Lorong Jambu, Tanjungrawa, Talangkikim, Padangkapas, Lebak Kranji, Kambangunglen, Ladangsirap, Museum Badaruddin, Candi Angsoka, Sarangwati, Gedingsuro, Kolam Pinisi, Sungai Buah dan Samirejo. Bukti-bukti arkeologis yang ditemukan meliputi prasasti, arca, sisa-sisa bangunan batu dan bata (candi atau bangunan lain), kanal-kanal,kolam-kolam, sisa perahu, sisa-sisa industri manik-manik, stupika tanahliat dan cetakan stupika, tembikar,dan keramik. Secara keseluruhan tinggalan arkeologis tersebut berasal dari abad ke-7 – 13 Masehi.

Terkait dengan lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Situs Karanganyar diperkirakan lokasi Dapunta Hyang mendirikan perkampungannya (wanua) yang kemudian berkembang jadi ibukota kerajaan. Situs Karanganyar dikelilingi oleh kanal atau parit buatan dan di dalamnya terdapat kolam-kolam buatan. Parit yang terpanjang adalah Suak Bujang yang memotong meander Sungai Musi sepanjang 3300 meter. Selain itu ada parit- parit lainnya yang saling berhubungan.

3.2. Situs-situs di Luar Pusat Sriwijaya

Candi Bumiayu

Situs Candi Bumiayu terletak di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim. Lokasi situs terletak dekat dengan Sungai Lematang. Keberadaan situs percandian ini pertama kali dilaporkan oleh Tombrink pada tahun 1864, sedangkan penggalian arkeologis pertama kali dilakukan pada tahun 1990 oleh oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Bambang Budi Utomo 1993) dan penggalian mutakhir dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang pada tahun 2005.

Pada situs terdapat 12 gundukan tanah yang mengandung runtuhan bangunan, yang dikelilingi oleh sungai-sungai kecil yang saling berhubungan dengan luas 110 ha. Penggalian arkeologis yang dilakukan oleh Pusat Penelitian arkeologi Nasional tahun 2002 dan Balai Arkeologi Palembang pada tahun 2002 hingga 2004 membuka 6 gundukan tanah, sedangkan candi yang telah ditampakan secara jelas adalah Candi Bumiayu 1,2 dan 3 (Siregar 2004)

Gugusan Candi Bumiayu merupakan candi agama Hindu, dengan ditemukannya arca-arca Agastya, Siwa Mahadewa, arca Nandiswara dan Mahakala. Pada kompleks percandian Bumiayu 1 terdiri dari sebuah candi induk dan empat candi perwara, yang dikelilingi oleh pagar. Berdasarkan denah dan bentuk perbingkaian berpelipit sisi genta (padma) dan setengah lingkaran (kumuda) menunjukkan ciri-ciri candi abad ke-8 Masehi, sedangkan bangunan induknya diduga didirikan dalam tiga tahap. Tahap pertama dibangun sekitar abad ke-8 – 9 Masehi dan masih berfungsi hingga abad ke-12 Masehi (Herrystiadi 1993 dalam Siregar 2004).

Tata ruang gugusan candi Bumiayu diperkirakan melambangkan jagad raya yang terdiri dari jambudwipa (benua berbentuk lingkaran yang terletak di pusat) dikelilingi tujuh samudera dan tujuh benua lain. Di luar itu jagad ditutup oleh barisan pegunungan yang sangat besar. Di tengah jambudwipa berdirilah Gunung Meru, yaitu gunung kosmis yang diedari oleh matahari, bulan dan bintang-bintang. Di puncaknya terletak kota dewa-dewa yang dikelilingi oleh tempat tinggal dari delapan dewa lokapala (Geldern 1982 dalam Siregar 2004).

Dikaitkan dengan gugusan Candi Bumiayu, Candi induk Bumiayu 1 melambangkan Gunung Meru, sedangkan parit keliling candi melambangkan 7 samudera dan 7 benua yang masing-masing berbentuk cincin (Siregar 2004).

Situs Binginjungut

Situs terletak di Kecamatan Muarakelingi, Kabupaten Musi Rawas, di kanan dan kiri tepi Sungai Musi. Schnitger (1937) melaporkan adanya sebuah arca batu di sekitar situs, yaitu arca Awalokiteswara bertangan empat dan tinggi arca 172 cm. Keempat tangannya telah patah dan hilang. Di bagian pung¬gungnya terdapat tulisan //daŋ ācāryya syuta// (Bambang Budi Utomo tt).

Dari sejumlah ciri yang dapat dijadikan sebagai penanda untuk mengetahui gaya arca, yaitu dari penggambaran pakaian dan tatanan rambut yang mencirikan adanya penga¬ruh gaya seni arca pada masa Śailendra. Sesuai dengan gaya seni yang terlihat, maka dapat dikatakan bahwa arca Awalokiteśwara ini ditempatkan ke dalam periode abad ke-8-9 Masehi yang merupakan masa berkembangnya seni Śailendra (Bambang Budi Utomo tt).

Pada lokasi yang sama ditemukan sebuah arca batu yang belum selesai, yaitu arca Buddha dalam posisi duduk bersila. Tinggi arca 153 cm. Kondisi arca yang tampak belum selesai dipahat menja¬di¬kan suatu kesulitan untuk mengetahui ciri-ciri ataupun gaya arca yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menempat¬kan arca pada periodenya. Oleh karena arca Buddha ini ditemu¬kan di Situs Bingin¬jungut, dimana dijumpai pula arca Bodhisattwa Awaloki¬teś¬wa¬ra , kemungkinan arca Buddha dapat dimasuk¬kan ke dalam periode antara abad ke-8-9 Masehi (Bambang Budi Utomo tt).
Balai Arkeologi Palembang telah melakukan eksvasi pada tahun 1997 dan 1998 dengan tujuan untuk mengungkapkan arsitektur Candi Binginjungut agar diketahui persamaan dan perbedaan candi itu dengan candi-candi lainnya di DAS Musi. Dari hasil ekskavasi belum diketahui secara pasti bentuk dan arah hadap candi. Meskipun demikian sisa-sisa bangunan candi ini memiliki persamaan dengan Candi Tingkip dan Candi Bumiayu I, yaitu pada profil candi berupa profil sisi genta. Selain itu lantai batu kerakal pada sisa bangunan Candi Binginjungut memiliki persamaan dengan lantai batu kerakal yang ditemukan pada Candi Telukkijing di Kabupaten Musi Banyuasin.
Ekskavasi juga memperoleh artefak lain, yaitu tembikar, keramik dan manik-manik. Tembikar yang ditemukan memiliki persamaan tipe dengan tembikar dari Karanganyar (Palembang), sedangkan keramik yang ditemukan berasal dari Cina masa Dinasti Song abad ke-10 – 13 Masehi.

Situs Teluk Kijing
Situs Teluk Kijing terletak di Desa Kijing, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasing, berada di antara pertemuan Sungai Batanghari Leko dan Sungai Musi. Keberadaan situs ini pertama kali diberitakan oleh Westenenk (1920) yang menggambarkan situs dikelilingi oleh sebuah parit di dalamnya dengan temuan batubata dan sisa besi.

Pada tahun 1995 tim gabungan yang terdiri dari Balai Arkeologi Palembang, CNRS dan EFEO Perancis dan Museum Sumatera Selatan Balaputra Dewa melakukan survey dan menemukan pecahan-pecahan keramik dari abad ke-12 – 13 Masehi, dan sebuah benteng tanah dengan saluran di bagian sisi dalamnya, panjang saluran 1,5 km, lebar 2,5 meter dan tebal 2 meter.

Ekskavasi di Situs Teluk Kijing menemukan hamparan bata-bata yang bersusun tidak beraturan dan di bagian bawahnya ditemukan susunan batu kerakal yang teratur dan diduga bekas lantai. Selain itu ditemukan pula sebuah pecahan relief candi yang menggambarkan seorang penari atau pemusik yang membawa gendang, tetapi bagian kepala telah hilang.

Situs Candi Tingkip

Situs Tingkip terletak di Desa Sungaijauh, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musirawas. Situs ini berada dekat Sungai Tingkip yang bermuara di Sungai Kijang, yaitu salah satu cabang Sungai Lemurus Besar. Di kota Binginteluk Sungai Lemurus Besar bertemu dengan Sungai Rawas, yaitu salah satu cabang Sungai Musi (Budi Santosa 1998).

Temuan yang menarik dari situs ini adalah sebuah arca batu berbentuk Buddha dengan tinggi 172 cm. Arca ditemukan pada sebuah runtuhan candi bata di sekitar Sungai Tinggkip pada tahun 1981.

Suleiman (1983: 209) menafsirkan arca ini dari penggambaran wajah yang menci¬rikan wajah arca-arca dari masa seni Dwarawati yang berkembang pada abad antara 6-9 Masehi. Pendapat yang sama mengenai gaya arca diajukan pula oleh Shuhaimi, namun cenderung me¬nem¬patkan arca pada abad ke-7 Masehi (Nik Hassan Shuhaimi 1992: 24). Berdasarkan peng¬amatan ciri yang menun¬jukkan bahwa arca Buddha dari Candi Tingkip dipahat dalam gaya mengikuti seni arca Dwa¬rawati, maka diduga arca tersebut ber¬asal dari abad ke-7-8 Masehi (Bambang Budi Utomo tt).

Penggalian arkeologis (ekskavasi) dilakukan pada tahun 1998 dan 1999 oleh Balai Arkeologi Palembang untuk mengungkap arsitektur Candi Tingkip. Candi Tingkip tinggal bagian dari pondasi atau batur candi, bagian lantai atau selasar dan tangga pintu masuk candi. Candi menghadap ke arah timur. Dua sisi candi, yaitu sisi barat dan sisi timur berukuran 7,60 meter. Walau belum diketahui panjang dari sisi-sisi yang lain, tetapi diperkirakan denah bangunan berbentuk bujursangkar (7,60 meter X 7,60 meter).

Berdasarkan bentuk profil dan arah hadap candi Tingkip yang memiliki persamaan dengan candi-candi di Jawa Tengah, Candi Tingkip mempunyai profil candi yang berkembang pada tahun 750-850.

Situs Candi Lesung Batu

Candi ini terletak di wilayah Desa Lesung Batu, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas. Candi yang berada di dekat Sungai Rawas ini ditemukan sisa bangunan candi dari bata. Situs ini telah dilakukan ekskavasi oleh Pusat Penelitian arkeologi Nasional tahun 1992 dan Balai Arkeologi Palembang.

Di situs ini terdapat sebuah yoni dari batuan breksi, tinggi 70 cm, lebar 75 cm, dan panjang 94 cm.Hiasan yang terdapat pada bagian dinding yoni berupa padma di pelipit bagian atas, ghana di keempat sudut, dan makhluk lain yang dipahatkan dalam posisi berdiri seperti ghana. Hiasan makhluk lain yang bukan ghana itu dipahatkan pada sisi belakang dan kiri cerat. Lubang tempat lińga atau arca berdenah empat per¬segi panjang, ukurannya sudah tidak dapat diketahui lagi kare¬na telah dirusak penduduk setempat.

4. Penutup

Proses pertumbuhan peradaban Indonesia Kuna di Sumatera Selatan, tidak lepas dari letak geografis yang strategis dari segi pelayaran dan perniagaan. Tentunya awal peradaban itu bermula dari kelompok-kelompok permukiman di daerah pantai di sepanjang Selat Bangka. Situs permukiman Karangagung Tengah, misalnya, berdasarkan beragamnya jenis artefak yang ditinggalkan serta luasnya persebaran situs di sepanjang sungai lama, memberikan gambaran pada sekitar abad ke-4 Masehi terdapat masyarakat yang telah mengenal perdagangan internasional, serta spesialisasi pekerjaan dan stratifikasi sosial (Budisantosa 2002).

Berkembangnya pusat peradaban di Palembang sejak abad ke-7 didukung oleh masyarakat di DAS Musi yang telah mapan dalam bidang perniagaan pada abad-abad sebelumnya. Dapunta Hyang memilih lokasi ibukota Sriwijaya yang baru di wilayah kota Palembang sekarang, berdasarkan pertimbangan lokasi Palembang yang strategis, yaitu titik simpul jalur perdagangan dari hilir ke hulu dan sebaliknya. Pusat-pusat komunitas (wanua) yang bermukim di luar Palembang, baik di daerah hulu maupun hilir, apabila melakukan hubungan social-budaya dan juga perniagaan, dipastikan melalui Palembang. Dengan kondisi demikian Palembang berkembang menjadi pusat peradaban di Sumatera Selatan, dibandingkan dengan lokasi lain termasuk di daerah pantai dekat dengan Selat Bangka, yang pernah menjadi pusat permukiman pra-Sriwijaya.


DAFTAR PUSTAKA


Boechari,1993, Hari Jadi Kota Palembang Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, dalam Sriwijaya Dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah, Palembang: Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Selatan.
Bambang Budi Utomo, 1993a, Belajar Menata Kota Dari Dapunta Hyang Sri Jayanasa, dalam Sriwijaya Dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah, Palembang: Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Selatan.
Bambang Budi Utomo, 1993a, Belajar Menata Kota Dari Dapunta Hyang Sri Jayanasa, dalam Sriwijaya Dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah, Palembang: Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Selatan.
Bambang Budi Utomo, tt, Arca-Arca di Sumatera, (tidak diterbitkan)
Budisantosa, Tri Marhaeni S, 2002 “Permukiman Pra-Sriwijaya di Karang Agung Tengah: Sebuah Kajian Awal” dalam Jurnal Arkeologi Siddhayatra, vol 7, No.2 Nov. 2002, halaman 65-89, Palembang; Balai Arkeologi
Koestoro, Lucas Partanda, 1993, Tinggalan Perahu di Sumatera Selatan Perahu Sriwijaya?, dalam Sriwijaya Dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah, Palembang: Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Selatan.
Rangkuti, Nurhadi, 1989, “Struktur Kota Sriwijaya di Daerah Palembang, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, Yogyakarta 4-7 Juli 1989, Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Soeroso, 2002, “Pesisir Timur Sumatera Selatan Masa Proto Sejarah: Kajian Permukiman Skala Makro” dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi IX, Kediri 23-27 Juli 2002.